Kadang kita terbalik-balik saat menggunakan kata hadits dan kata sunnah, bahkan kita tidak mengerti kapan kita menggunakan kata hadits dan kapan kita menggunakan kata sunnah, lalu apa sih perbedaannya?
Kata hadits secara bahasa berarti al-Jadid (sesuatu yang baru) yang merupakan awan dari kata al-Qadim(sesuatu yang lama), juga bisa berarti at-Thariq (jalan), al-Khabar (berita), dan as-Sunnah (perjalanan). Menurut Abdul Baqa sebagaimana dikutip Subhi as-Shalih, kata hadits adalah isim dari kata ahaditst yang berarti pembicaraan.
Adapun kata Sunnah secara bahasa berarti jalan, aturan, cara berbuat. Menurut al-Jurjani, Sunnah berarti kebiasaan, jalan yang diridhoi maupun tidak diridhoi. Kata Sunnah dapat juga diartikan sebagai sebuah tradisi yang telah biasa dikerjakan, baik terpuji maupun tercela.
Para ulama hadits dan ulama ushul fiqih juga berbeda pendapat dalam mendefinisikan sunnah secara istilah, sebagaimana berikut:
Pertama, ulama hadits berpendapat bahwa sunnah adalah segala perkataan, perbuatan, ketetapan, sifat maupun perjalanan hidup yang bersumber dari Nabi Muhammad Saw, baik yang terjadi sebelum maupun sesudah diangkat menjadi Rasul.
Kedua, ulama ushul fiqih berpendapat bahwa sunnah adalah segala perkataan, perbuatan, ketetapan yang bersumber dari Nabi Muhammad Saw selain dari al-Qur’an yang berkaitan dan layak dijadikan sebagai dalil hukum syara’.
Dalam bahasa sederhananya, ulama hadits memandang sunnah sebagai segala kebiasaan Nabi Muhammad Saw, baik yang berkaitan dengan hukum syara’ maupun tidak. Dengan kata lain, mereka memandang sunnah sama dengan hadits. Sedangkan ulama ushul fiqih memandang sunnah sebagai segala perkataan, perbuatan, ketetapan yang bersumber pada Nabi Muhammad Saw, akan tetapi hanya yang berhubungan dengan hukum syara’.
Selain itu, para ulama lain juga berbeda pendapat dalam hal mendefinisikan hadits dan sunnah. Setidaknya terdapat tiga pendapat sebagaimana berikut:
Pertama, Ibnu Taimiyah berpandangan bahwa hadits jika tidak dikaitkan dengan lafad lain berarti segala sesuatu yang diriwayatkan dari Nabi Muhammad Saw, baik perkataan, perbuatan, maupun pengakuannya. Sedangkan sunnah jika tidak dikaitkan dengan lafad lain berarti tradisi yang berulangkali dilakukan oleh masyrakat, baik dipandang ibadah maupun tidak.
Kedua, Taufiq Shidqi berpandangan bahwa hadits adalah pembicaraan yang diriwayatkan satu atau dua orang kemudian hanya mereka saja yang mengetahuinya. Sedangkan sunnah adalah suatu jalan yang dipaktekkan Nabi Muhammad Saw secara terus menerus dan diikuti oleh sahabat beliau.
Ketiga, Abdul Kadir Hasan berpandangan bahwa hadits adalah sesuatu yang diriwayatkan dari Nabi Muhammad Saw berupa ilmu pengetahuan teori (teoritis). Sedangkan sunnah adalah suatu tradisi yang sudah kerap dikerjakan oleh Nabi Muhammad Saw berupa perkara yang bersifat amalan (praktis).
Pada akhirnya hadits dan sunnah dapat dikatakan sama sekaligus berbeda. Persamaannya, hadits dan sunnah sama-sama bersumber dari Nabi Muhammad Saw. Hal ini agaknya yang mendasari ulama hadits berpendapat bahwa hadits identik dengan sunnah.
Sedangkan perbedaannya, hadits adalah sebuah berita tentang suatu peristiwa yang bersumber dari Nabi Muhammad saw, sedangkan sunnah adalah perbuatan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw secara terus menerus.
UNTUK DIPERHATIKAN
Admins menghormati hak kebebasan berpendapat anda dalam merespons artikel manapun yang tersaji di sini. Karenanya, tidak ada pemberlakuan persyaratan khusus yang dapat diartikan sebagai pembatasan atas hak tsb. Sebagai gantinya, kami hanya minta anda menghormati kewajiban moral anda sendiri dengan menghargai tata-krama serta adab yang berlaku dalam budaya kita. Ekspresikanlah pendapat anda dengan menggunakan bahasa yang baik. Terima kasih.
0 Comments:
Post a Comment